Cinta Rupiah untuk Bela Negara: Kuy, Taarufan dengan Rupiah Tahun Emisi 2016

“Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka taarufan.”

Begitulah canda seorang kawan manakala kami berkelakar di sela-sela diskusi beberapa waktu silam. Karib yang memang gemar membahas perihal taaruf dari segala sisi pembahasan itupun tertawa usai mendengar sendiri gurau yang ia lontarkan. Kata taaruf bagi sebagian kalangan, terutama generasi millenial yang masih mencari jati diri pasti membuat mereka salah tingkah. Lalu akan sibuk berdalih, “Single itu pilihan.”

Duh, sudahlah. Mari kita tinggalkan sejenak penggunaan kata taaruf yang kontroversial itu. Kali ini, blog Novaldi Herman ingin mengajak kita bertaaruf dengan Rupiah tahun emisi 2016. Sudah pernah melihat, menggenggam (bukan meremas atau meremuk ya), menggunakannya untuk berbelanja? Bilapun sudah, mari mengenal lebih detil Rupiah tahun emisi 2016 beserta ayah-bundanya, adik-kakanya, paman-bibi, kakek-nenek, serta…, ah… Kenapa malah kembali ke topik taaruf tadi?

Bela Negara, Sebab Mengapa Kita Harus Mengenal Rupiah

Hasrat untuk membela negara tentu dimiliki oleh setiap warga. Menjaga tanah air agar punya kedigdayaan di mata bangsa lain menjadi hal yang utama. Tak terkecuali kita, tentu saja.

Namun membela bangsa dan negara tak selamanya perihal mengangkat kelengkapan alat utama sistem persenjataan saja. Bagi rekan-rekan di Hubungan Internasional pastinya setuju, bahwa ada hard power lain yang dapat menjadi tolok ukur posisi suatu negara dalam pandangan negara lain. Ya, ekonominya. Dan dalam hal ini termasuk mata uangnya.

Kita punya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang (UU Mata Uang) yang mencakup hal tersebut. Rupiah, menjadi satu-satunya alat pembayaran yang sah di Wilayah NKRI. Rupiah sebagai mata uang menjadi simbol kedaulatan negara. Sebagai warga, kita wajib menjadikannya kebanggan, serta Rupiah wajib dijadikan alat tukar dalam setiap transaksi yang kita lakukan di dalam negeri.

Rupiah wajib dipakai dalam setiap pembayaran, dalam berbagai transaksi yang pemenuhannya menggunakan uang. Lengkapnya, setiap transaksi yang terdapat pembayaran di dalamnya dipenuhi dengan penggunaan Rupiah, selama itu masih di dalam Wilayah NKRI. Namun dalam ayat (2) pasal 21, tetap diberikan pengecualian seperti pelaksanaan APBD, beri-terima hibah luar neger, perdagangan internasional, valuta asing, juga pembiayaan internasional.

Untuk transaksi dalam negeri, UU Mata Uang tersebut juga punya sifat mengikat yang akan berlaku punishment bagi yang tak mematuhinya. Dalam pasal 23 dan 33 misalnya, diterangkan bahwa menolak Rupiah sebagai alat pembayaran dalam transaksi dapat dikenakan hukuman pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Namun sebagaimana bukti cinta, tentu kita tak akan menolak penggunaan Rupiah. Langkah yang perlu kita lakukan untuk menumbuhkan kecintaan pada rupiah itu tak lain adalah dengan mengenal mata uang ini lebih jauh lagi. Terlebih, kita sudah kehadiran keluarga baru dari pecahan-pecahan Rupiah untuk tahun emisi 2016. Maka untuk mengetahui bagaimana ciri-ciri masing-masingnya, mari kita taaruf satu per satu dari mereka.

Yang perlu kita tahu, bahwa identifikasi Rupiah tahun emisi 2016 ini tak jauh berbeda dengan tahun emisi sebelumnya. Hanya saja, ada beberapa perbedaan pada gambar depan dan belakang yang dimiliki. Seperti pada pecahan Rp 50.000, jika pada tahun emisi 2004 tertera gambar pahlawan I Gusti Ngurah Rai, maka tahun 2016 ini terdapat gambar Ir. H. Djuanda Kartawidjaya. Serta pada pecahan Rp 10.000 pula, jika pada tahun emisi 2005 terdapat gambar Rumah Limas Palembang, maka pada tahun emisi 2016 ini diperkaya dengan gambar Tari Pakarena, Pemandangan Alam Taman Nasional Wakatobi, serta Bunga Cempaka Hutan Kasar di bagian belakangnya.

Namun dari segi warna, Rupiah pada emisi tahun 2016 masih sama dengan tahun emisi terdahulu. Kita masih ingat bukan, ketika pecahan Rp 10.000 tahun 2005 tampil dengan warna ungu?

Saat lebaran tahun itu, saya senang bukan main ketika menerima hadiah puasa penuh berupa uang dari saudara saya. Melihat angka nol berderet-deret di belakang angka 1 seperti mendapat durian runtuh. Namun akhirnya saya kecewa dalam kelucuan manakala sadar bahwa uang yang saya terima justru berwarna ungu bukan merah. Juga bukan bergambar-pahlawankan Dr. Ir. Soekarno dan Dr. H. Mohammad Hatta, melainkan Sultan Mahmud Badaruddin II. Artinya bukan Rp 100.000, tapi 10.000.

Tapi tetap harus disyukuri, rezeki. Hihi.

Untuk uang kertas, Rupiah dibuat dengan kertas khusus dari serat kapas. Sementara pada uang logam, pecahan Rp 1.000 berbahankan nickel plated steel, serta aluminium pada pecahan Rp 500, Rp 200 dan Rp 100.

Keharusan penggunaan Rupiah bukan tanpa jaminan. Ada banyak unsur pengamanan yang tertanam pada uang kita. Ada tanda air (watermark) yang hanya dapat dilihat apabila diterawangkan ke arah cahaya. Juga ada benang pengaman (security thread) yang akan memendar apabila dilihat dengan sinar ultraviolet.

Setiap nominal pecahan Rupiah juga punya ciri-ciri keaslian, serta standar visual kualitas. Misalnya terdapat tulisan mikro pada uang kertas yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan loupe atau kaca pembesar. Uang kertas juga menggukan teknik cetak dalam (intaglio) yang membuat uang terasa kasar bila diraba, juga teknik rectoverso yang pada bagian muka dan belakang uang saling beradu dan mengisi jika diterawangkan ke arah cahaya.

Perihal penintaan, ada bagian yang diisi dengan teknik optically variable ink dimana bagian uang dicetak dengan tinta khusus dan latent image yang akan berubah warna apabila dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Juga invisible ink yang mana hasil cetak tidak kasat mata dan akan memendar di bawah sinar ultraviolet layaknya benang pengaman.

Bank Indonesia sebagai bank sentral juga menjamin apabila dalam bertransaksi, kita mendapati uang palsu yang tak memiliki ciri-ciri di atas. Kita bisa mengklarifikasi apabila memperoleh uang yang terindikasi kepalsuannya. Bisa dengan datang langsung ke Direktorat Pengedaran Uang di kantor pusat Bang Indonesia, Kompleks Perkantoran Bank Indonesia Gedung C Lantai 7, Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 10350. Kita juga dapat menelepon nomor (021) 381 7686 dan mengirimkan email ke bi-cac@bi.go.id untuk klarifikasi tersebut.

Bagi saya dan masyarakat Sumatera Barat pula, tentu dapat pula langsung mengunjungi kantor wilayah Bank Indonesia Padang diJl. Jend. Sudirman No. 22, Padang dengan telepon (0751) 317 00-03 dan fax (0751) 310 39. Melalui pengaduan tersebut, BI akan mengganti uang yang kita ragukan keasliannya bila itu benar asli. Namun BI tidak dapat melakukan ganti-rugi bila uang yang kita adukan memang uang palsu sejak semula. Namun paling tidak, dengan melakukan pengaduan kita sudah mencegah uang palsu tersebut terus beredar.

Sebagai masyarakat sadar Rupiah, ada hal-hal yang perlu kita lakukan bila menemukan uang palsu:

1. Menahan Rupiah Palsu yang diragukan keasliannya tersebut dan tidak diedarkan kembali
2. Tidak merusak fisik Rupiah yang diragukan keasliannya
3. Melaporkan dan menyerahkan Rupiah yang diragukan keasliannya kepada Bank Indonesia setempat atau pihak Kepolisian terdekat.

UU Mata Uang (UU No. 7 Tahun 2011) yang sudah kita singgung sebelumnya juga memberi hukuman pada tindak pemalsuan Rupaih. Pada pasal 26 disebutkan kita dilarang memalsukan, menyimpan, mengedarkan dan membelanjakan, serta membawa ke dan dari luar negeri Rupiah palsu. Konsekuensi pidana dari tindakan tersebut di antaranya; pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) untuk pemalsu dan penyimpan Rupiah palsu; pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) untuk pengedar dan pembawa Rupiah palsu, serta; pidana penjara paling lama seumur hidup dan pidana denda paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah) pengimpor/pengekspor Rupiah palsu.

Namun demikian, kesadaran yang penuh tentu akan menjauhakan kita dari tindakan penipuan uang palsu, juga niat untuk memalsukan Rupiah itu sendiri.

A…, ada satu lagi kondisi Rupiah yang tak layak edar selain karena kepalsuan. Rupiah yang tahun emisinya telah ditarik oleh BI, Rupiah yang rusak karena berlubang, robek, diselotip, terbakar dan hilang sebagian, serta Rupiah yang kondisinya lebih lusuh dan/atau lebih kotor dibandingkan dengan Standar Visual Rupiah Layak Edar yang ditetapkan Bank Indonesia.

Kriteria Rupiah yang masih layak edar apabila terjadi kondisi di atas punya beberapa syarat. Jika berlubang, maksimal hanya memiliki diameter 10 mm2. Sementara untuk sobek maksimal 8 mm2, selotip 225 mm2, berubah ukuran maksimal 8%, tidak ada noda, coretan dan stempel, serta tidak ada sambungan dari dua bagian yang terpisah. Seperti halnya dengan uang yang kita minta klarifikasi keaslian, uang yang masih masuk dalam kriteria layak edar atau transisi penggantian emisi bisa kita tukarkan kembali ke BI untuk mendapatkan uang yang baru.

Penggunaan Rupiah Menguatkan Ekonomi Dalam Negeri

Kita sudah mengenal Rupiah tahun emisi terbaru 2016. Dengan mengetahui rupa barunya, serta tindakan apa yang harus dan dilarang untuk dilakukan, kita dapat terpanggil untuk menggunakan Rupiah, serta mencegah terjadinya peredaran uang palsu. Selain hal di atas, ada beberapa upaya lain yang dapat kita lakukan demi penguatan Rupiah sebagai mata uang.

Pertama, kita harus berani memiliki Rupiah. Kenaikan dan penurunan perekonomian kerap kali berlaku seperti sebuah siklus. Nilai mata uang Rupiah dapat kembali menguat. Namun sebagian justru pesimis dan terburu-buru menukarkan Rupiah dengan mata uang asing, dalam hal ini Dollar.

Sayangnya, tren penaikan dan penurunan nilai Rupiah terhadap Dollar dimanfaatkan sebagian besar spekulan. Ketika nilai tukar Rupiah turun, mereka akan berupaya menukarkan Rupiahnya menjadi Dollar. Tentunya untuk meraup keuntungan. Akibatnya, rupiah kian merosot atas kepercayaannya sebagai mata uang.

Adalah rasa bela negara yang tinggi agar kita tidak ikut larut dalam tren ini. Kejatuhan rupiah bukanlah sarana meraih keuntungan dan strategi investasi, justru kita harus bangun dengan meningkatkan kepercayaan penggunaan Rupiah.

Kedua, kita harus perbanyak transaksi menggunakan Rupiah. Tidak hanya transaksi antar warga Indonesia, penggunaan Rupiah juga bisa digunakan terhadap sektor pariwisata. Para pelaku usaha pariwisata dapat memberlakukan hal ini, terutama pada wisatawan mancanegara. Penggunaan Dollar oleh pelancong asing dapat dialih-biasakan dengan pembayaran dalam bentuk Rupiah. Di beberapa destinasi wisata populer dalam negeri, masih kerap ditemukan wisatawan yang menggunakan Dollar dalam pembayaran. Komitmen peralihan dari penggunaan Dollar ke Rupiah dapat membantu penguatan mata uang kita. Bila demikian, akan  terjadi peningkatan kebutuhan dan permintaan terhadap Rupiah yang akan berdampak pada penguatan nilai mata uang yang membaik.

Kita juga dapat mengurangi penggunaan barang impor dan beralih pada produk domestik. Pengonsumsian produk lokal tidak hanya menghidupkan industri dalam negeri, tapi juga mengurangi ketergantungan kita terhadap Dollar atau mata uang asing lainnya yang digunakan dalam aktifitas impor.

Dengan menggunakan Rupiah pada setiap transaksi, menyimpan dari kerusakan, melaporkan dan menjauhi pemalsuan, berarti kita sudah membantu menjaga kestabilan nilai tukar Rupiah dan membangun kepercayaan dunia pada mata uang kita.

Bagaimana? Terasa besar bukan peran kita saat menggunakan Rupiah? Itulah yang kita sebut peRpaduan cinta saat mengguna seperti yang disebutkan sebelumnya. Jadi, mari gunakan dan cintai Rupiah kita.

 

*Tulisan ini disertakan dalam Blog Competition 2017 yang diselenggarakan oleh

Bank Indonesia dan NET Media Televisi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s